Minggu, 02 Juni 2013

REGIO PROP 80 BUATAN INDONESIA SIAP SAINGI ATR


N-250 Gatotkaca

(18/3/2013) Anak mantan Presiden Republik Indonesia BJ Habibie, Ilham Habibie, memiliki rencana besar untuk mengembangkan pesawat regional yang diberi nama Regio Prop 80 (R80).

R80 merupakan pengembangan dari pesawat N-250 yang dikomandani oleh BJ Habibie, namun dihentikan proyeknya oleh International Monetary Fund (IMF) karena kiris ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998.

Ilham Habibie yang diwawancarai Detik.com mengungkapkan, Regio Prop 80 memiliki perbedaan yang cukup besar dibandingkan dengan N-250. Perbedaan yang paling terlihat adalah dari segi ukuran. R80 memiliki ukuran lebih besar dan memiliki kapasitas penumpang yang lebih besar dibandingkan dengan N-250. R80 sanggup membawa hingga 80 penumpang, sedangkan N-250 hanya mampu menampung 50 penumpang.

Karena ukuran pesawat lebih besar, maka sayap pesawat juga dibuat lebih besar untuk memberikan gaya angkat yang lebih kuat. Selain itu, landing gear atau roda pendaratan pada R80 juga dibuat lebih besar daripada N-250 untuk mengakomodasi badan pesawat yang lebih besar.

Dari sisi teknologi, sistem kontrol R80 akan lebih canggih dibandingkan dengan N-250. Hal ini terjadi karena N-250 dikembangkan 15 tahun silam, sedangkan teknologi semakin lama semakin maju, sehingga R80 akan mengadopsi teknologi yang lebih modern.

Salah satu hal yang menjadi persamaan antara R80 dan N-250 adalah terletak pada mesin. Kedua pesawat ini sama-sama menggunakan mesin baling-baling (turboprop) sebagai penggerak. Selain itu, sayap sama-sama berada di atas badan pesawat dan jika pesawat dibelah, lekukan ataupun konturnya akan sama dengan N-250.

Ilham mengatakan akan tetap mempertahankan mesin turboprop karena dinilai handal dan hemat bahan bakar. Apalagi dengan pesawat yang lebih kecil seperti ini sangat efektif menghubungkan kota-kota kecil jarak dekat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan mampu diakomodasi oleh bandara dengan landasan pendek. 

R80 memang didesain untuk digunakan pada rute pendek dengan jarak tempuh kurang dari 600 km. Diharapkan pesawat ini bisa bersaing dengan pesawat ATR yang telah banyak dioperasikan oleh maskapai penerbangan Indonesia. Saat ini Wings Air merupakan ATR 72 terbesar di Indonesia. Bahkan jika seluruh ATR 72 telah dikirimkan kepada Wings Air, maskapai ini akan menjadi operator ATR 72 terbesar di dunia. Citilink pada tahun ini juga mendatangkan ATR 72 untuk menghubungkan rute-rute jarak dekat. Hal ini cukup membuktikan bahwa pesawat baling-baling lebih efisien digunakan pada rute pendek.

Ambisi untuk bersaing dengan ATR ini tentu melalui pertimbangan yang matang. ATR saat ini menjadi benchmark pesawat baling-baling di dunia. Nantinya R80 akan memiliki ukuran lebih besar dibanding ATR, yaitu 80 kursi, sedangkan ATR saat ini hanya memproduksi pesawat dengan kapasitas 70 kursi.

Kelebihan lain R80 adalah memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ATR, namun dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat. Selain itu, harga jual R80 akan dibuat lebih murah daripada ATR. Hal ini memungkinkan karena suku cadang yang digunakan dibuat di Indonesia.

R80 dikembangkan oleh PT Ragio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan perusahaan gabungan antara PT Ilthabie Rekatama milik Ilham Habibie dan PT Eagle Cap miik Erry Firmansyah. 

Ilham Habibie menampik tudingan bahwa perusahaan ini didirikan untuk menyaingi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Menurutnya, PTDI akan menjadi salah satu pemegang saham dan produksi pesawat juga dilakukan oleh PTDI.

Bisakah R80 bersaing dengan pesawat produksi pabrikan kelas dunia? Paling tidak kita harus menunggu sampai tahun 2018, saat pesawat ini mulai diluncurkan.

SEJARAH AWAL PESAWAT TERBANG



Wright Bersaudara yang terdiri dari dua orang adik beradik, Orville Wright (19 Agustus 1871 – 30 Januari 1948) dan Wilbur Wright (16 April 1867 – 30 Mei 1912), secara umum dihargai atas desain dan perancangan pesawat terbang efektif pertama, dan membuat penerbangan terkendali pertama menggunakan pesawat terbang bermesin yang lebih berat daripada udara, bersama dengan pendirian tonggak sejarah lainnya dalam bidang era dirgantara. Kedua kakak beradik itu pada awalnya mengelola sebuah toko di Dayton, Ohio. Toko tersebut menjual dan memperbaiki sepeda motor. Mereka mulai mempelajari masalah penerbangan pada tahun 1889. Kemudian mereka mulai membuat tiga pesawat terbang layang bersayap kembar. Ketiganya dites di pantai Kitty Hawk, North Carolina. Pesawat yang ketiga telah diujinya sebanyak 1000 kali penerbangan dan ternyata berhasil dengan sukses. Kemudian mereka membuat mesin motor ringan. Mesin tersebut di pasang di pesawatnya yang keempat, yang dinamakannya Wright Flyer.

Pada pukul 9.30 pagi (9.30 WIB malam) dalam cuaca dingin yang mendung pada tanggal 17 Desember 1903, Wright Bersaudara menerbangkan untuk pertama kalinya pesawat udara berkendali sejauh empat mil di dekat wilayah berbukit pasir di Kitty Hawk, North Carolina. Mereka menyaksikan pesawat Wright Flyer dikemudikan oleh Orville, mengangkasa selama 12 detik. Kemudia pesara tersebut turun kembali setelah mencapai 37 meter dari tanah. Penerbangan tersebut merupakan penerbangan pesawat yang pertama dalam sejarah. Pesawat tersebut pada awalnya dinamai Wright Flyer, tetapi sekarang lebih populer dengan nama “Kitty Hawk”. Pesawat Flyer yang asli kini terdapat di Museum Dirgantara di Washington DC,Amerika Serikat.

Spoiler for pesawat model pertama hingga sekarang:



Berakhirnya Perang Dunia I justru malah membuat era penerbangan sipil tumbuh dan berkembang pesat. Larangan terhadap Jerman untuk mengembangkan industri pesawat militernya rupanya tidak diikuti pembatasan terhadap penerbangan sipil, sehingga dalam waktu singkat muncullah pesawat pesawat sipil yang diproduksi, misalnya tipe Junker, serta berdirinya perusahaan penerbangan Lufthansa, yang diikuti dengan perusahaan penerbangan lain yakni KLM (yang tertua di dunia) dan lain-lain dari berbagai negara di Eropa maupun Amerika. Berbagai inovasi dilakukan pada pesawat sipil untuk kenyamanan penumpang, antara lain televisi dan radio (meskipun suaranya terganggu oleh bunyi mesin pesawat), interior yang mewah, serta fasilitas dapur dan toilet udara. Diadakannya penerbangan perintis jarak jauh mewarnai era ini seperti penerbangan dari Amsterdam-Batavia, London-Sydney, dan penerbangan keliling dunia lainnya.


setelah perang dunia 1 berakhir, perkembangan industri pesawat sangat pesat, dan di bawah ini adalah pesawat WW1 buatan jerman



Spoiler for pesawat tempur I:



pada perang dunia 2 , perubahan yg signifikan terjadi pada industrilisasi pesawat terbang , dan dibawah penampakannya , yaitu pesawat buatan jerman



Spoiler for pesawat tempur II:



Sesudah Perang Dunia II, penerbangan sipil mulai bangkit lagi. Maskapai baru didirikan di berbagai belahan dunia dengan bermodalkan pesawat pesawat angkut militer yang tidak terpakai lagi dan inovasi terbaru berupa mesin jet, yang muncul terlebih dahulu dibandingkan mesin turboprop, serta mulai adanya pesawat penumpang sipil berukuran besar yang dioperasikan di berbagai negara. Tercatat pesawat jet tipe Comet sebagai pesawat jet sipil pertama yang dioperasikan. Namun, kecelakaan yang terjadi akibat kelelahan logam, yang saat itu masih sukar diidentifikasi, membuat perkembangan pesawat jet agak terhambat.


dibawah ini pesawat penumpang yang sering digunakan untuk domestik dan antar negara.


Spoiler for pesawat komersil:
first flight boeing 747-100

setelah beberapa mengalami perubahan akhirnya pada tahun 60′an Maka, pada tahun 1966 Boeing mengeluarkan satu garis panduan mengenai konfigurasi pesawat penumpang yang akan dinamakan Boeing 747. Pan Am memesan 25 buat seri 747-100. Pada mulanya, desain pesawat ini adalah pesawat dua tingkat penuh atau ‘double decker’ tetapi karena masalah evakuasi pesawat ketika keadaan darurat, ide ini diganti menjadi sebuah pesawat berbadan lebar.

Ketika itu, Boeing 747 diperkirakan akan digantikan oleh pengangkutan supersonik. Maka Boeing membuat ulang Boeing 747 supaya dapat diubah menjadi pesawat kargo, untuk berjaga-jaga apabila permintaan bagi versi penumpang akan menurun suatu hari nanti dan hanya versi kargo yang mampu bertahan. Maka kokpit pesawat itu dipindahkan ke dek atas agar moncong pesawat dapat dibuat untuk dibuka menjadi satu pintu kargo.

sumber : berbagai sumber